MENYUSUN HARAPAN
"Aku pernah merasakan seluruh kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia".-Ali bin Abi Thalib r.a.
Mungkin kalimat itu yang menjadikanku kuat untuk melangitkan segala harapan pada Tuhan(Allah swt), meski tak bisa kupungkiri, makhluk-Nya juga sering kali menjajakan harapan. Aku pun juga demikian, kadang terlena dan terbuai harap pada sesama makhluk-Nya. Sejak aku patah kemarin, entah mengapa rasa hati lebih hati-hati dalam menghadapi setiap hati. Meski sebelumnya aku juga lakukan hal sama, namun rasanya kali ini berbeda. Sebelumnya kubiarkan hati ini menjaga dirinya sendiri, hingga kubiarkan dia(sebut saja Sendal Jepit) yg membawa harapan indah itu datang. Salahku memang... sempat diriku sendiri membantunya membangun harapan harapan megah bersamanya, dan membuat tembok tembok yg perlahan meninggi di sekelilingku, tanpa kubiarkan seorang pun memanjatnya dan hanya Sendal jepit-lah yg punya kuncinya. Namun ternyata aku terlalu naif. Sudah...semuanya selesai. Kunci itu kurampas darinya dan kusimpan sendirian.
Sungguh..saat aku merampas kunci itu memang berat sekali rasanya. Namun setelah kejadian itu, entah mengapa tak ada secuil pun penyesalan atas tindakan tegas yg kuambil.
Di saat yang bersamaan, dinding dinding yg mengelilingiku perlahan kurobohkan hingga tak setinggi dulu, hingga kubiarkan diriku seperti sebelum-sebelumnya. Tuhan...disaat yang sama mereka datang. Aku masih belum bisa dan belum siap membangun lagi. Kubiarkan hatiku bekerja seperti biasa untuk melindungi dirinya sendiri. Kubiarkan pula mereka berusaha melompati pagar yg sudah tak setinggi kemarin lagi. Hari, minggu, bulan, mereka datang, berusaha, menyerah, lalu pergi. Namun satu yang sangat hebat bisa bertahan hingga saat ini. Memang tak kupungkiri awalnya aku tak menaruh perasaan, namun....aku nyaman. Entah apa ini...aku benci keadaan ini. Kenapa dia yg selalu membuatku tertawa? Dan kenapa dia tak menyerah? Kenapa semakin hari aku semakin yakin saja....dan kenapa aku menjadi terbiasa untuk menunggu "hai tayo" darinya. Aku takut...aku takut harapan akan dirinya terbangun. Belum lama ku mengenalnya, namun dia tak pernah kehabisan tema dan cara membuatku tertawa. Beruntung aku mengenalmu, terimakasih sudah membawa tawa lagi. Jujur bukan aku masih terjerat situasi dengan "Sendal jepit" dulu, sama sekali ku tidak memiliki rasa...aku bersyukur karena Allah memberi pertunjuk untuk menjauhinya, dan ternyata Allah mendekatkanku denganmu. Entah memang aku saja yg merasa kita ini dekat?atau memang benar adanya kalau kita ini dekat? Sungguh sebenarnya aku masih takut menuliskan semua ini. Namun, setelah apa yg kualami beberapa bulan ini...aku merasa aku perlu menulis ini. Tulisan yang akan mengingatkanku pada perjalanan panjang dengan pengalaman berharga yg tak terlupakan. Tulisan yang hingga hari ini meneriakkan semua kebaikan, kekonyolan, kepedulian darimu. Entahlah, aku sangat bersyukur dan merasa beruntung bisa menunggu "hei tayo-mu" ketika pulang kerja, dan menjadi perempuan yg beberapa hari sekali menjadi orang terakhir yg mendengar suaramu sebelum tidur meski lewat ponsel wkwk. Makasih mas, sudah menjadi abang yg baik...semoga harapanku pada Allah yg perlahan kususun akan berakhir indah. Dan semoga harapanku padamu tidak semudah itu terbangun, sebelum semua ini benar-benar jelas.
Rawamangun, 2 Desember 2018.
Komentar
Posting Komentar