PENIKMAT FAJAR DAN PEMBURU SENJA
PENIKMAT FAJAR DAN PEMBURU SENJA
Awalnya, kamu adalah fajar yang perlahan muncul menghangatkan hariku, namun nyatanya aku salah. Mungkin aku yang terlalu bodoh untuk meletakkan hati ini diatas tembikar hatimu. Aku bodoh!!! Ya memang aku bodoh. Kamu sudah pernah berkata jangan pernah ada harap, cukup percaya saja semua ucapan yang keluar dari mulutmu adalah benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Bodohnya, aku terus membawa namamu memasuki bilik hatiku yang selama ini tertutup. Dan yang lebih bodoh lagi, aku menganggap kamu benar-benar fajarku yang menghangatkan, dan aku adalah perempuan yang meneduhkanmu dari teriknya siang.
Memang aku bodoh. Tau kenapa? Karena sungguh aku sebelumnya telah berjanji pada diri sendiri untuk tak akan pernah membawa diri ini jatuh terlalu dalam.karena jujur, sebelum aku mengira kamu adalah fajar, aku melihatmu seperti mendung. Aku bosan melihat tingkahmu. Aku lelah melihat rupamu. Namun nyatanya karma itu membalikkan hatiku. Aku jatuh.... ya aku jatuh. Semakin dalam? Ya memang dalam ternyata. Kenapa? Karena kamu membuatku merasa seolah aku berhak merasa lebih dari perempuan biasa dimatamu. Kamu indah, kamu lucu, kamu unik, kamu shalih, kamu cerewet, dan kamu menyebalkan.
Hingga saat ini yang tersisa hanya kamu yang menyebalkan. Kamu tahu tidak? aku sudah tertawan. Aku sudah menyerah. Aku sudah jatuh. Aku meletakkan hati padamu. Lalu kamu pergi dengan indah...indah sekali. Kamu pergi setelah sebelumnya kita tak terpisahkan seperti piring dan sendok. Kamu mungkin melihat bunya di kebun sebelah lebih indah. Atau ada alasan lain yang aku tak tahu. Memang hebat ya kamu. Tanpa ada obrolan serius, kamu tiba-tiba menghilang. Sedangkan aku? Aku tetap disini menunggumu kembali seperti dulu. Bodoh bukan...? Ya aku bodoh sekali. Hingga ternyata fajarku benar-benar pergi. Kucoba mengikuti kemana ia singgah. Dan sepertinya sulit bagiku menemukan tempat persinggahan itu. Namun yang jelas, aku menemukannya sudah di penghujung hari. Kutemukan ia diujung senja....Ingin aku memegangnya erat agar ia tak pergi. Ingin aku berkata untuk tetap tinggal disini, bahkan untuk kembali padaku. Tapi memang imajinasiku terlampau tinggi. Tak mungkin itu akan terjadi...ya...memang tak akan mungkin. Kini kamu pergi. Terakhir kulihat senja dirimu begitu indah dibalut dengan langit jingga. Kulihat dirimu lembut dan menenangkan. Aku bodoh....Kenapa? Karena aku hanya bisa melihat indahmu tanpa berani membujukmu untuk kembali. Yang ada hanya hati yang bertarung dengan logika untuk melepasmu. Jangan!!!jangan kejar!!!! Aku wanita, tak mungkin aku mengejarmu. Aku punya rasa malu untuk melakukan hal itu. Rasanya cukup aku menikmatimu kala fajar dan kala senja. Karena sekuat apapun aku mengejarmu, senja itu tela datang, kamu telah hilang, jarak telah terbentang. Aku sadar, memang aku menikmati datangmu, entah saat kamu datang sebagai fajar hingga pergi sebagai senja.
Yang kuingat, pernah suatu malam aku mengemis pada Tuhan untuk menjawab do'a-do'aku tentang dirimu. Pernah kurayu-Nya untuk mengirimkanmu padaku. Pernah dalam istiharahku kamu datang dalam keadaan indah...indah sekali. Aku bahagia kala itu, aku yakin kala itu. Namun kini, yang bisa kulakukan adalah berdo'a pada-Nya untuk kebaikanmu dan kebaikanku. Jika memang kamulah yang tertulis di laukhil mahfudz, pasti Allah akan mengembalikanmu dalam keadaan lebih baik, dan aku juga dalam keadaan lebih baik. Pergilah, do'aku bersamamu. Sekarang tak sedikit pun aku membencimu. karena aku yakin semua yang terjadi diantara kita adalah perjalanan yang akan membawa kita ke tempat tujuan. Terimakasih telah menemuiku saat fajar dan tinggalkanku kala senja. Baik-baik dimanapun kamu nanti ditempatkan. Jadilah orang baik seperti yang selama ini ku kenal. May Allah always bless u SENDAL JEPIT ku :)
Bintaro, 8 Agustus 2018

Komentar
Posting Komentar