PEREMPUAN BUNGKAM
Assalamualaikum shalihah... Bagaimana kabar hatimu? Masih
konsistenkah dengan diam? Masihkah kamu telaten untuk menyebut nama itu dalam do’a
akhir shalatmu? Masihkah kamu sabar menunggu? Selama ini aku terbungkam, diam, tak
bersuara, melihatnya dari kejauhan sudah sangat cukup rasnya.
Ya...memang kita istimewa, kita berbeda, dan kita punya kehormatan
yang harus dipelihara. Memang jatuh cinta adalah fitrah setiap manusia di muka
bumi ini. Namun, kita sebagai perempuan selayaknya meyadari sepenuhnya bahwa fitrah kita adalah menunggu, dan hak
kita adalah menolak. Mereka(laki-laki) memiliki hak sendiri untuk memilih kita,
dan kadang datang lalu pergi sesuka hati. Kuakui, diriku sendiri kerap
meronta....kerap logikaku memaksa untuk meneriakkan perasaan yang sungguh
tumbuh subur ketika kuberikan sedikit saja celah untuk tumbuh. Lalu bagaimana
aku seharusnnya? Ingin aku menanyakan pada ia, apa maksudnya? Mengapa? Kenapa harus
aku? Apakah aku yang terlalu terbawa perasaan? Kuakui kadang kecewa itu datang, namun aku yakin itu buakan karenamu melainkan karena aku yang berharap lebih selain pada Rab ku.
Peliharalah
rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita
yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau
bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk
mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan
public, termasuk menjaga lisan dan tingkahmu terhadap lawan jenis. Sungguh
kadang aku mengemis pada Allah untuk memberi petunjuknya. Menjawab keresahan hati akan dirinya. Jika memang
dia adalah orang yang tertulis di laukhil mahfudz, doaku agar kita senantiasa
dimudahkan untuk bersatu dalam halal. Namun
jika tidak, kuharap persahabatan kita selamanya abadi. Aku beruntung mengenalnya.
Sungguh aku sangat beruntung. Awalnya memang banyak hal menyebalkan darinya
yang tak ku suka, namun ternyata hal-hal itulah yang sulit untuk terlupa. Apapun
itu, dimanapun dia berada, doaku masih tetap pada nama yang sama hingga hari
ini. Terimakasih pernah menjadi teman terbaik...hari ini memang kita jauh, aku
dengan kesibukanku dan dia dengan tanggungjawabnya. Indah memang mengenang
bulan-bulan lalu, bulan-bulan dimana aku menjadi pengagum rahasianya. Namun,
sungguh aku tak ingin berlebihan terhadapnya... tak ingin aku menaruh harapan
setinggi langit. Aku berkaca diri, belumlah pantas aku menjadi perempuannya,
perempuan yang teduh baginya. Aku ingin menjadi perempuan mendekati sempurna
baginya, yang mampu menjadi oase ditengah terik hari yang dilaluinya. Menjadi perempuan
yang mampu menjadi pendidik bagi anak anaknya. Semoga tuhan memberikan jawaban
terbaik. Aku bahagia menjadi perempuan yang terbungkam memendam semua doa.
Yakin, Allah tahu dan menyiapkan yang terbaik bagi kita. Selamat bertugas,
semoga kita dipertemukan kembali, dalam waktu dan kesempatan terbaik.

Komentar
Posting Komentar